BeritaOrganisasi & Kaderisasi

Dinamika Berorganisasi

Menanggapi dinamika organisasi yang terjadi saat ini di perusahaan kita, akhirnya tergerak juga jari ini untuk menulis satu dua kata-kata yang bernilai, tidak hanya sekedar bacaan biasa namun sebuah pemahaman mengenai makna sebuah POLA PIKIR dan CARA PANDANG yang WAJIB dibaca oleh seluruh karyawan baik yang menjadi anggota serikat pekerja maupun yang tidak menjadi anggota serikat manapun di perusahaan BUMN terbesar di Indonesia ini.

Serikat Pekerja PLN

Bismillahirrahmanirrahim…. Menarik memang melihat sepak terjang serikat yang mewarnai perusahaan kita saat ini yang dapat dilihat dari masing-masing unsur dengan ciri dan warna khas baju-baju mereka. Sebelum kita bahas mengenai warna baju-baju tersebut, kiranya kita telisik sejenak ke belakang untuk berbicara mengenai sejarah.

Adanya serikat di perusahaan plat petir ini diawali dengan berdirinya Serikat Pekerja PLN pada 18 Agustus 1999, dibawah kepemimpinan Ir. Ahmad Daryoko saat itu SP PLN sangatlah solid, bijak, cerdas, dan berwibawa untuk menangkis adanya kebijakan-kebijakan yang mengancam perusahaan ini dari tangan-tangan pihak yang ingin merampas kedikdayaan perusahaan monopoli listrik ini untuk tetap mengepakkan sayapnya melistriki pedesaan dan wilayah terpencil di seantero nusantara.

Seiring berjalannya waktu riak-riak pada kepengurusan SP PLN mulai bermunculan, diawali pada momen kembali terpilihnya Ir. Ahmad Daryoko untuk kembali duduk pada kursi Ketua Umum SP PLN melalui MUBES tahun 2007 di Yogyakarta, dan puncaknya pada tahun 2009 yang akhirnya SP PLN terpecah kongsi menjadi 2 (dua) kepengurusan. Permasalahan dualisme kepengurusan yang berbuntut pada saling klaim memiliki status legal standing-nya, mana yang sah dan mana yang tidak sah terhadap bukti pencatatan organisasi, AD ART dan kepengurusannya itu pun masih berlanjut sampai saat ini walaupun beberapa kali upaya islah dilakukan namun tak kunjung membuahkan hasil yang diharapkan, sehingga perpecahan tersebut menimbulkan istilah baru dalam menyebut 2 (dua) kubu/fraksi yang saling berseteru untuk memudahkan para insan di PLN menyebutnya. Karyawan PLN biasa menyebut dua kubu tersebut dengan SP PLN Lt. 3 dan SP PLN Lt. 9, tempat dimana kantor sekretariat mereka berada hingga saat ini. Tidak hanya permasalahan dualisme kepengurusan, tp masih banyak akar permasalahan organisasi tersebut lain di luar itu yang tidak banyak diketahui oleh para anggotanya. Kami tidak ingin membahas lebih jauh permasalahan ini, karena jika hanya dikupas dari satu sudut pandang saja, dikhawatirkan akan menimbulkan polemik dan gesekan antar insan PLN yang masing-masing saat ini sedang berkonsentrasi bahu-membahu dan bekerjasama membangun pondasi perusahaan ini menuju pada masa kejayaan yang menjadi mimpi kita pada 5-10 tahun ke depan.

Di pihak manajemen PT PLN (Persero) memilih SP PLN Lt. 9  sebagai mitra manajemen dengan segala konsekuensinya setelah berusaha untuk mengishlahkan kedua belah pihak yang tidak juga berhasil dan menyurati beberapa kali ke Kementrian Tenaga Kerja RI terhadap hasil keputusan MA.

Pihak Lt. 3 merupakan unsur yang jumlah pengurus dan anggotanya minoritas, dengan Ketua Umum saat ini adalah H. Adri, unsur ini merupakan serikat yang keberadaannya tidak diakui oleh manajemen, yang kegiatannya dari mulai SPPD pengurus sampai kegiatan apapun tidak mendapatkan fasilitas dan bantuan dari manajemen. Dari tahun 2009 sampai saat ini, selama itulah mereka berusaha bertahan dengan kondisi seperti gambaran di atas. Sedangkan hal berbeda dirasakan oleh pihak Lt. 9, anggota dalam unsur ini merupakan mayoritas, dari Sabang hingga Merauke, dan keberadaannya diakui oleh manajemen sehingga kegiatan dari unsur ini diakomodir dan difasilitasi oleh manajemen PT PLN (Persero), Ketua Umum unsur ini saat ini adalah Sdr. Jumadis Abda yang terpilih pada MUNAS di tahun 2016 ini.

Seiring berjalannya waktu, tidak dapat dipungkiri, adanya dualisme kepengurusan tersebut hingga saat ini menimbulkan berbagai masalah yang tak kunjung dapat menemukan titik temunya yang pada ujungnya menyebabkan perselisihan dari mulai permasalahan saling klaim dalam pemakaian logo, nama serikat, adanya pengakuan dari manajemen terhadap serikat yang sah dan diberikan fasilitas, hingga permasalahan legal standing terkait bukti pencatatan dan nomor pendirian yang merupakan syarat mutlak terhadap eksistensi diakuinya sebuah serikat oleh Negara dan Pemerintah.

Di tengah perjalanan, seolah tak ingin larut dengan berbagai permasalahan yang menimpa serikat di perusahaan plat petir ini, dengan tujuan untuk menghadirkan entitas yang lebih baik dari sebelumnya, dengan visi misi dan AD ART yang lebih baik karena merupakan penyempurnaan- penyempurnaan dari unsur yang sudah ada sebelumnya, dan tentu saja program unggulan dan aplikasi berbasis IT yang belum ada pada serikat sebelumnya, para kaum intelektual dan mempunyai cara pandang berbeda dalam menyikapi segala permasalahan yang timbul pada serikat yang tak ada ujung pangkal temunya, secara alamiah mereka orang-orang yang ingin berubah, move on dari kondisi yang ada, tak hanya sekedar berpangku tangan, ingin berbuat sesuatu untuk perusahaan ini, dengan segala pertimbangan, analisa, dan kajian yang mendalam, satu-per satu dari kaum intelektual ini tergerak hatinya membentuk entitas-entitas baru. Sama sekali tak ada niat di benak mereka untuk melemahkan serikat dan memecah-belah perusahaan ini dengan yang mereka perbuat, karena sebuah kebebasan berserikat, mekanisme dan tata cara berdemokrasi dengan kondisi multi serikat dalam sebuah perusahaan sudah diatur dalam peraturan tertinggi negara ini yang dituangkan dalam sebuah Undang-Undang yakni UU No. 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Buruh. Tertarik untuk membaca isi dari UU tersebut? Tidaklah sulit untuk mendapatkan file tersebut karena hanya dengan mengetik kata tersebut di gadget yang anda genggam saat ini. Sangatlah perlu saat ini anda membaca peraturan tersebut karena undang-undang tersebut merupakan pondasi bagi kita insan PLN untuk memahami makna hidup berserikat dalam kondisi seperti sekarang ini.

Kita mulai bahas mengenai warna-warna baju dalam Multi Union Labour di perusahaan ini, dimulai dengan munculnya persatuan GeMa (Gerakan Generasi Muda) PLN, mereka sepakat menamakan dirinya Serikat Karyawan PLN, namun tidak lama dan tak sempat menunjukkan eksistensinya, unsur tersebut dengan sendirinya menghilang bak ditelan alam. Kemudian pada tahun 2015, lahir entitas baru dengan dengan nama Serikat Pegawai Perusahaan Listrik Negara, yang diketuai oleh Sdr. Yan Herimen, kantor sekretariatnya berada di PT PLN (Persero) S2JB di kota Palembang, ibukota dari provinsi Sumatera Selatan. Jika diambil garis asal usul, unsur ini terbentuk dari serikat yang berlokasi di PT PLN (Persero) Kantor Pusat Gedung 1 Lt. 3. Unsur ini sudah mencatatkan keberadaannya pada instansi pemerintah yang menyelenggarakan urusan di bidang ketenagakerjaan setempat, dan keberadaannya juga sudah mendapatkan pengakuan dari manajemen PT PLN (Persero) sebagai serikat yang sah dan legal sesuai dengan persyaratan undang-undang berlaku. Dan di awal tahun 2016, kembali lahir entitas baru di perusahaan monopoli listrik ini, LASKAR PLN namanya, keberadaannya langsung menggemparkan dunia perserikatan PT PLN (Persero) yang dirasakan di seantero wilayah nusantara. Ditarik ke belakang, unsur ini merupakan unsur yang terbentuk dari serikat yang berlokasi di PT PLN (Persero) Kantor Pusat Gedung 1 Lt. 9, senada dengan Serikat Pegawai PLN, LASKAR PLN juga sudah mencatatkan keberadaannya pada instansi pemerintah yang menyelenggarakan urusan di bidang ketenagakerjaan setempat, dan keberadaannya juga sudah mendapatkan pengakuan dari manajemen PT PLN (Persero) sebagai serikat yang sah dan legal sesuai dengan persyaratan undang-undang berlaku. LASKAR PLN diketuai oleh Sdr. Tonny Ferdinanto, yang kantor sekretariatnya berada di kantor PT PLN (Persero) Pusat Pengatur Beban (P2B), wilayah Gandul, Jakarta Selatan.

Sesuai uraian di atas, saat ini serikat yang diakui di perusahaan ini berjumlah 3 (tiga) serikat, yakni SP PLN yang saat ini masih berusaha untuk menyelesaikan permasalahan dualisme kepengurusan, Serikat Pegawai Perusahaan Listrik Negara, dan juga LASKAR PLN. Mereka semua mempunyai AD ART masing-masing, cara pandang terhadap penyelesaian permasalahan, cara berjuang dan menyampaikan pendapat kepada manajemen yang berbeda, hal inilah yang membedakan mereka dan inilah yang menentukan karakter dan ciri khas mereka, oleh karena itu baju yang mereka kenakan pun berbeda. Namun di luar perbedaan itu semua, mereka mempunyai satu tujuan yang sama, yakni menjaga eksistensi dan dan mengawal proses produksi perusahaan pada kejayaan untuk mencapai masa emasnya yang pada akhirnya dirasakan oleh semua anggota dan karyawan untuk meningkatkan taraf hidup mereka dan keluarganya, dan satu yang perlu kita semua ketahu bahwa mereka semua sangatlah tidak menginginkan jika perusahaan ini terpecah belah. Jika saat ini sedang menyeruak wacana kebijakan manajemen untuk memecah belah perusahaan ini, mungkin manajemen harus berfikir kembali karena saat ini tidak hanya 1 (satu) unsur yang menolaknya, tapi ada 3 (tiga) unsur yang siap menghadang kebijakan yang merugikan karyawan dan membahayakan kelangsungan hidup perusahaan tersebut.

Membahas mengenai paragraf di atas, kita jadi teringat mengenai filosofi yang sedang mengemuka saat ini yakni filosofi sebuah sapu lidi yang misalkan jumlah lidinya berjumlah 100 lidi, bilamana hanya ada satu lidi, tidak akan mungkin bisa digunakan dan berfungsi untuk menyapu kotoran di depannya, namun bila disatukan dan diikat hingga  berjumlah 100 buah, akan terlihat fungsinya sebagai sebuah sapu yang dapat menyapu kotoran apapun yang ada di depannya. Itulah mungkin saat ini yang menjadi pemikiran insan PLN terhadap permasalahan yang menimpa dinamika perserikatan di perusahaan ini. Kita akan semakin kuat bila kita semua bersatu dalam wadah yang sama, karena tujuan kita sama.

Namun apakah terfikirkan di benak kita bila sapu yang lidinya berjumlah 100 dan sudah terikat menjadi satu tersebut ada yang mengendalikan dan memafaatkan untuk hal-hal yang tidak diinginkan?  Tentu saja tidakkah hal tersebut akan sangat fatal bila ini bisa terjadi? Hal tersebut juga seyogyanya perlu kita fikirkan dan analisa, serta kita analogikan dengan perserikatan di perusahaan yang kita cintai ini. Bilamana hanya ada 1 (satu) serikat saja dan serikat tersebut dan pada suatu kondisi sudah dimanfaatkan dan dikondisikan oleh manajemen untuk memuluskan kebijakannya, apakah hal ini tidakkah lebih berbahaya? Dan sesuai dengan analisa kami, hal ini sudah terbukti dengan adanya kejadian dan momen yang terjadi beberapa tahun ke belakang. Kiranya tidak perlu kami bahas lebih lanjut apa yang sudah terjadi beberapa tahun ke belakang ini.

Akan berbeda jika sapu lidi tersebut terdiri dari beberapa ikat kecil yang berjumlah 10 atau 20 lidi yang terikat menjadi satu, dan bergabung dengan sapu lidi lain yang terikat juga, tentu saja sapu lidi tersebut menjadi lebih kuat dan bilamana ada yang mengendalikan dan memanfaatkan untuk hal yang berbahaya, dalam kondisi terpisah beberapa ikat sapu lidi tersebut akan saling bertahan. Kiranya filosofi ini juga kembalil dapat kita analogikan dalam makna berserikat, jika hanya ada satu serikat di perusahaan ini maka akan sangat mudah akan sangat mudah bagi manajemen yang berkepentingan untuk mengeluarkan kebijakan yang merugikan bagi anggota karena 1 (satu) serikat tersebut sudah berhasil dikendalikan, namun bila ada lebih dari 1 (satu) serikat, akan ada backup dan penolakan dari serikat yang lain dalam menyikapi kebijakan yang merugikan tersebut.

Kembali lagi ke sebuah filososofi yang sedang mengemuka saat ini yang dianalogikan bahwa sebuah serikat bak sebuah kapal besar yang nahkodanya tidak dapat mengendalikan kapal besar itu sehingga solusi dari masalah tersebut adalah hanya dengan mengganti nahkodanya, dan mungkin saat ini sudah dilakukan upaya untuk mengganti nahkoda tersebut, dan walaupun kita sudah mengganti nahkodanya kita tetap membeli kapal baru sedangkan kapal besar tersebut masih layak untuk kita gunakan, bukankah tindakan seperti itu merupakan sebuah inefisiensi? Pada kenyataannya filosofi ini bisa diterima oleh anggota yang mungkin memang tidak mengetahui secara detail kondisi yang dialami oleh serikat di perusahaan ini. Namun di luar itu semua, seperti yang sudah kami kemukakan sebelumnya, bahwa ada suatu hal yang menjadi pertimbangan para kaum intelektual perusahaan ini untuk melompat dari kapal besar tersebut untuk membeli kapal baru dan membesarkannya daripada harus memperbaiki kondisi kapal besar yang menurut mereka tidak mungkin lagi bisa diperbaiki. Permasalahan-permasalahan yang ada pada kapal tersebut tidak hanya berputar pada masalah penggantian nahkoda, namun di dalamnya sudah tidak jelas arah organisasinya yang berdampak pada penurunan kinerja peralatan, kebocoran di sana sini, hingga masalah adanya dugaan oknum-oknum kapal yang sengaja memanfaatkan fasilitas mewah yang ada di kapal tersebut untuk kepentingan dirinya sendiri. Wallahu alam . .

Dan hingga pada akhirnya, kita sendiri yang dapat menilai dan menentukan pilihan terhadap cara mereka berjuang, program kerja, dan hingga seberapa besar benefit yang kita peroleh dengan memilih salah satu serikat tersebut. Adanya serikat baru menjadi sebuah pembanding terhadap serikat yang sudah ada sebelumnya. Jika sampai kapanpun hanya ada satu serikat, maka tidak akan ada koreksi dan tidak akan terlihat bila kinerja serikat tersebut tidak memuaskan. Namun akan berbeda jika ada banyak serikat disana, anggota akan lebih fleksibel dalam menentukan pilihan dilihat dari performance masing-masing serikat tersebut, dan tentu saja mereka akan memilih serikat yang membawa benefit bagi mereka, tentu saja dengan persaingan yang sehat diantara serikat tersebut, dengan tidak saling menghujat, memprovokasi, dan menjelekkan antara satu dan yang lain.

Setidaknya, dengan kondisi seperti ini, munculnya entitas-entitas baru di perusahaan ini, insan  PLN (anggota) menjadi “melek” terhadap serikat, yang selama ini mungkin pemahaman anggota terhadap serikat hanya sekedar menanyakan kapan turunnya bonus, IKS, dan THR pada pengurusnya, saat ini satu per satu anggota minimal menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan serikat yang mungkin selama ini dianggap baik-baik saja. Fenomena turunnya pengurus-pengurus DPP ke unit-unit yang kita jumpai saat ini merupakan kejadian langka yang sebelumnya belum pernah terjadi, adanya Personal Message (PM) dan japri langsung dari Ketua Umum kepada anggota sekali lagi ini juga merupakan hal yang langka dan belum pernah terjadi sebelumnya. Setidaknya inilah dampak tidak langsung yang sudah dirasakan oleh anggota. Yang pada akhirnya, dalam bentuk apapun akan mendatangkan kebaikan dan nilai positif untuk anggota dan perusahaan.

Sejatinya, sebuah pola pikir dan cara pandanglah yang yang menentukan sikap dan respon kita terhadap sebuah permasalahan yang terjadi, kita tidak bisa memandang permasalahan tersebut hanya pada 1 (satu) sudut pandang saja. Harus benar-benar bisa memandang secara obyektif, bukan subyektif. Jika dipandang dari sudut pandang serikat yang sudah berdiri besar dan ada saat ini, maka serikat baru yang muncul tersebut sangat mudah untuk disimpulkan bahwa berdirinya serikat tersebut sudah barang tentu akan memecah belah dan melemahkan serikat di perusahaan ini, namun jika kita memandangnya dari sudut pandang serikat baru itu, inilah cara kita untuk merubah kondisi yang berlarut-larut ini, kita tidak bisa diam, kita harus move on ke arah yang lebih baik, karena ini semua sudah tidak dapat diperbaiki lagi, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ya, cara pandang itu seyogyanya tidak hanya kita pakai dalam menyikapi masalah mengenai dinamika organisasi serikat yang ada di perusahaan ini, namun cara pandang itu harus kita pakai pada segala aspek dalam mengarungi kehidupan kita di dunia ini. Akhir kata, penulis mengingatkan kembali pada kita semua bahwa jika kita ingin menuntut ilmu, janganlah hanya pada satu guru saja, karena jika dia (guru) tersebut tersesat, maka tersesatlah pula kita semua. Wassalam . . .

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Solve : *
1 + 28 =


Close